Kisah Mualaf Haji Abdurkarim Oei (Oei Tjen Hien)
![]() |
| Kisah Mualaf Haji Abdurkarim Oei (Oei Tjen Hien) |
Ia aktif di Muhammadiyah sampai tahun
1932 dan dalam kegiatan ini lalu kenal dengan Prof. Dr. HAMKA. Pergaulannya
semakin luas dan pengalamannyapun semakin tambah lalu pada tahun 1961 beliau
membentuk organisasi Islam bernama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia/PITI.
Organisasi ini sebenarnya merupakan gabungan dari dua organisasi yang sejenis
sebelumnya yakni Persatuan Islam Tionghoa dan Persatuan Tionghoa Islam. Dalam
perkembangan selanjutnya, maka organisasi PITI ini berubah menjadi Pembina Iman
Tauhid Islam.
Ia dikenal dengan nama Haji Abdurkarim,
seorang tokoh Muhammadiyah mantan anggota Parlemen RI dan mendirikan organisasi
etnis Tionghoa Islam dengan nama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia/PITI. Pada
tahun 1967-1974 ia menjadi anggota Pimpinan Harian Masjid Istiqlal Jakarta yang
diangkat oleh Presiden RI, menjadi anggota Dewan Panyantun BAKOM PKAB, dan
anggota Pengurus Majelis Ulama Indonesia Pusat.
Dalam dunia bisnis, dia dikenal
sebagai seorang etnis yang ulet dan memegang berbagai jabatan penting antara
lain; Komisaris Utama BCA, Direktur Utama Asuransi Central Asia, Direktur PT
Mega, Direktur Utama Pabrik Kaos Aseli 777, dan Direktur Utama Sumber Bengawan
Mas. Sebagai seorang muslim yang taat dia selalu menghitung dengan teliti
jumlah kekayaannya untuk dikeluarkan zakatnya. Pak Oei dikenal pula dengan si
Baba (atau Babadek menurut orang Bengkulu) juga akrab dengan Bung Karno
(Presiden I RI) . Suatu ketika di Bengkulu, Pak Oei akan melakukan kunjungan ke
cabang-cabang Muhammadiyah dengan mobil yang dikemudikan oleh seorang sopir.
Mobil itu berjalan pelan-pelan karena di belakang ada Bung Karno yang sedang
bersepeda sambil berbincang-bincang dengan Pak Oei. Sesampai di atas kota kedua
sahabat karib itu berpisah, dan Bung Karno bersepeda kembali ke kota dan Pak
Oei melanjutkan perjalanan ke daerah-daerah.
Haji Abdulkarim Oei sebagai salah
seorang pionir keturunan Tionghoa yang aktif dalam upaya pembauran. Hal ini dia
buktikan dengan kesadarannya menjadi warganegara Indonesia yang otomatis harus
keluar dari hidup menyendiri di lingkungan etniknya. Ke Islamannya membawa Oei
otomatius ke pola hidup baru ini. Dan keakrabannya dengan sejumlah tokoh
seperti Buya Hamka akan lebih memotivasi Pak Oei dalam menggerakkan
Muhammadiyah dan memperkuat upaya pembauran. Buya Hamka sendiri pernah
menyatakan tentang diri Pak Oei ini dalam brosur "Dakwah dan
Asimilasi" tahun 1979 "Dalam tahun 1929 mulailah saya berkenalan
dekat dengan seorang muslim yang membaurkan dirinya ke dalam gerakan
Muhammadiyah dan langsung diangkat oleh masyarakat Muhammadiyah di tempat
tinggalnya, yaitu Bengkulu.
Ia menjadi Konsul Muhammadiyah Daerah
tersebut sekarang namanya lebih terkenal dengan sebutan Bapak Haji Abdulkarim
Oei. Telah 50 tahun kami berkenalan, sama faham, sama pendirian dan sama-sama
bersahabat karib dengan Bung Karno. Persahabatan Saudara H. Abdulkarim dengan
Bung Karno itu sangatlah menguntungkan bagi jiwa H. Abdulkarim sendiri".
Di samping dia menjadi seorang muslim yang taat, diapun dipupuk, diasuh dan
akhirnya menjadi Nasionalis Indonesia sejati. Semasa pendudukan Jepang H. Abdulkarim
diangkat sebagai Dewan Penasehat Jepang (Chuo Sangi Kai) . Pada masa
kemerdekaan ia diangkat sebagai KNI Bengkulu dan sebagai anggota DPR mewakili
golongan minoritas. Dalam kepartaian dia memilih Partai Muslimin
Indonesia/PARMUS sebagai wadah perjuangannya.
Pada tahun 1982 riwayat hidupnya yang
berjudul "Mengabdi Agama, Nusa dan Bangsa" terbitan PT Gunung Agung
Jakarta itu ditarik dari peredaran karena dinilai merugikan pihak-pihak
tertentu. Bersama dengan Yunus Yahya, Oei melakukan pembinaan agama Islam kepada
warga keturunan. Yunus Yahya nama aslinya adalah Lauw Chuan Tho termasuk tokoh
pembaruan dari kalangan Cina Muslim di Indonesia dan pernah sekolah di Sekolah
Tinggi Ekonomi Rotterdam Belanda. Ia masuk Islam tahun 1979 dan diangkat
sebagai Pengurus Majelis Ulama Indonesia tingkat nasional sejak 1980-1985.
Haji Abdulkarim Oei Tjen Hien
meninggal dunia pada hari Jum`at dini hari tanggal 14 Oktober 1988 dalam usia
83 tahun karena sakit tua dengan beberapa komplikasi. Jenazahnya dimakamkan di
Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir Jakarta dekat makam isterinya Maimunah Mukhtar
yang meninggal tahun 1984 dengan meninggalkan 5(lima) putra-putri dan beberapa
cucu.
Sekian kisahnya , share jika bermanfaat :-)
Kisah Mualaf Haji Abdurkarim Oei (Oei Tjen Hien)
Reviewed by Unknown
on
16:12
Rating:
Reviewed by Unknown
on
16:12
Rating:

No comments: